Memilih “Flash Disk” yang Efektif

Ada beberapa hal yang harus anda perhatikan sebelum memilih flash disk yang efektif. Data-data yang tersimpan dalam flash disk tentunya berisi data-data penting. Oleh sebab itu, faktor keamanan menjadi hal yang perlu diperhatikan sebelum memilih flash disk. Sebaiknya anda memilih flash disk yang memiliki chip pengontrol dalam setiap unitnya. Chip pengontrol akan memungkinkan anda untuk menginstal flash disk dengan berbagai macam software portable seperti, Security Software dan File Syncronization.

Memindahkan data ke dalam flash disk tentu sering anda lakukan. Sebab, hal ini adalah salah satu tujuan diciptakannya flash disk. Mengingat kapasitas flash disk sudah relatif besar, kecepatan transfer tentunya menjadi sangat penting. Salah satu versi flash disk yang dapat anda pilih adalah High Speed USB 2.0 Flash Disk.

Masa pemakaian rata-rata flash disk adalah sekitar 2-3 tahun. Oleh sebab itu, pastikan flash disk yang anda pilih memiliki masa garansi. Garansi flash disk bisa anda dapatkan jika membeli di tempat-tempat yang tepat dan terpercaya.

Faktor desain juga perlu anda perhatikan sebelum membeli flash disk. Kini, ada berbagai macam merek flash disk yang menawarkan desain-desain menarik, perhatikan juga kelengkapan aksesoris yang ditawarkan seperti tersedianya tali gantungan, penutup flash disk, dan kabel data.

Kini tersedia juga berbagai macam flash disk berdasarkan kapasitasnya. Anda perlu mempertimbangkan berapakah kapasitasnya yang diperlukan sesuai kebutuhan. Semakin besar kebutuhan data anda, maka semakin besar kepasitas flash disk yang anda perlukan. Hal ini untuk mengantisipasi, agar anda tidak membeli flash disk berulang-ulang karena kapasitasnya yang kurang.

Untuk mengantisipasi data dalam flash disk hilang, anda dapat menggunakan dua buah flash disk. Satu flash disk untuk data utama, sementara flash disk yang lainnya untuk data cadangan. Jadi jika anda kehilangan data dalam flash disk, anda dapat menggunakan data dari flash disk cadangan.

Komentar bertahan »

PERNIKAHAN DINI DINILAI KEJAHATAN

Pernikahan anak usia dini dengan orang dewasa atau sesama usia dini merupakan kejahatan kemanusiaan. Dilihat dari sisi manapun tidak ada positifnya. Dokter spesialis kebidanan dan kandungan, Rudy Irwin, menyatakan secara medis perempuan yang menikah dibawah usia 20 tahun sangat rentan terkena kanker leher rahim (serviks). Selain itu kanker serviks bisa terjadi pada perempuan yang melahirkan dibawah usia 20 tahun dan berganti-ganti pasangan seksual. Perempuan yang menikah dibawah usia 20 tahun, 58,5% lebih rentan terkena kanker reviks.

Setiap tahun sekitar 500 ribu perempuan didiagnosis menderita kanker serviks dan lebih dari 250 ribu diantaranya meninggal dunia. Saat ini ada 22,2 juta perempuan yang mengidap penyakit serviks.

Terjadinya pernikahan dini karena beberapa faktor, seperti kemiskinan dan keinginan menaikan status ekonomi. Tapi yang paling kentara karena faktor budaya.

Pemahaman banyak orangtua akan konsep anak juga belum jelas. Mereka sering kali menganggap anak adalah investasi, sehingga keberadaanya harus berguna bagi keluarganya. Ada juga mitos yang menyebutkan menikahi anak-anak dapat membuat lelaki jadi perkasa dan awet muda. Budaya itu harus diubah. Disitulah peran pemuka agama dan pemuka masyarakat jadi penting.

Komentar bertahan »

Indonesia Menuju Sistem Penyiaran Digital

Indonesia Menuju Sistem Penyiaran Digital <!– @page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in } P { margin-bottom: 0.08in } –>

Indonesia Menuju Sistem Penyiaran Digital

Sistem penyiaran Indonesia akan segera melakukan migrasi dari sistem analog menuju sistem digital. Saat ini, sistem itu bahkan sudah dalam tahapan uji coba yang dilakukan di seputar Jakarta, Bogor, Denpasar, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek).

Tingginya frekuensi bencana alam dekade terakhir ini, kehadiran media penyiaran sangat penting. Karena media penyiaran lebih cepat dapat meyampaikan situasi, sehingga pemerintah segera dapat memberikan bantuan kepada korban bencana itu.

Sidang ABU selama dua hari hingga 25 November yang diikuti 550 delegasi dari 48 negara di kawasan Asia Pasifik, memiliki tiga sasaran penting. Ketiga sasaran itu adalah sebagai diploma budaya dan kerjasama di bidang tekhnik, khususnya migrasi dari sistem analog ke sistem digital.

Diploma budaya tersebut, katanya dapat dilakukan melalui pesan-pesan siaran kepada anggota ABU lainnya baik berupa informasi maupun pesan kultur yang lebih luas, termasuk pertukaran isi siaran antarmedia penyiaran radio maupun televisi. Menurut Menteri Negara Komunikasi dan Informasi, Muhammad Nuh, inti dari diplomasi budaya merupakan salah satu sasaran ABU dalam keterlibatannya menciptakan perdamaian dunia.

Sumber : Koran Suluh Indonesia

Komentar bertahan »

Tangerang Kembangkan Perpustakaan Internet

Tangerang Kembangkan Perpustakaan Internet <!– @page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in } P { margin-bottom: 0.08in } –>

Tangerang Kembangkan Perpustakaan Internet

Pemerintah Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten pada 2009 akan melaksanakan program perpustakaan online yang melayani peminjaman buku melalui jaringan internet sebagai upaya lebih mengoptimalkan fungsi perpustakaan daerah. Dan Pemerintah Kabupaten Tangerang mencoba menerapkan tekhnologi informasi untuk meningkatkan kualitas pelayanan perpustakaan daerah.

Program perpustakaan online tersebut juga bertujuan meningkatkan kualitas layanan kepada masyarakat yang membutuhkan literatur atau buku referensi. Melalui perpustakaan online tersebut masyarakat akan lebih mudah atau mencari buku atau referensi yang dibutuhkan karena jaringan perpustakaan online tersebut akan menambah koleksi buku.

Saat ini Perpusda Kabupaten Tangerang di Balaraja, serta kantor unit pelayanan di Kresek, Mauk, Teluknaga, Curug, Tigaraksa baru memiliki koleksi buku sebanyak 52.000 eksemplar. Apabila sistem online sudah diterapkan, masyarakat yang ingin meminjam buku tidak perlu berkunjung ke perpusda karena mereka dapat mengakses perpusda melalui internet, asalkan sudah terdaftar sebagai anggota.

Melalui sistem online tersebut, Perpusda Kabupaten akan menyediakan bebagai informasi seperti mengenai perpustakaan, buku terbitan baru, dan publikasi karya ilmiah dengan seizin pengarang maupun pemilik hak ciptanya. Sesuai Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 dan Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Perpustakaan maka sejak 2008, Kantor Perpustakaan mulai didirikan secara otonom dengan anggaran sendiri. Sebelumnya perpustakaan berada di bawah kendali Dinas Pendidikan, dan dibentuk sebagai Unit Pelaksanaan Teknis Dinas (UPTD).

Sumber : Koran Ekobis

Komentar bertahan »

Bintang Baru

Bintang Baru <!– @page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in } P { margin-bottom: 0.08in } –>

Bintang Baru

Awal November 1572, sebuah “bintang baru” muncul dari konstelasi Cassiopeia di saat terang. Bintang itu secerah Venus dan bisa dilihat dari bumi pada siang hari yang terik sekalipun selama dua pekan. Setelah 16 bulan, bintang itu menghilang.

Salah satu insan di dunia yang takjub menengadah keatas saat itu adalah astronom Denmark, Tycho Brahe. Ia merekam posisi bintang itu yang tergolong tepat di masa tanpa teleskop dalam buku Stella Nova.

Brahe melukiskan bintang baru itu terletak jauh di belakang bulan. Tidak seperti bulan dan planet-planet lainnya, cahaya yang tampak dari bumi itu tidak berpindah-pindah secara relatif terhadap bintang-bintang.

Dunia saat itu geger. Selama 2000 tahun sebelumnya, Aristoteles merumuskan bahwa surga dan bintang-bintang itu sudah tetap dan tidak berubah di langit. Buku Brahe itu justru memberi landasan untuk pemikiran-pemikiran Kepler, Galileo, Newton dan ilmuwan yang lahir kemudian.

Setelah 400 tahun, cahaya yang pernah diliahat Brahe itu rupanya terulang. Dunia kini tentu tidak terkejut. Cahaya itu sudah diamini datang dari sebuah supernova, sebuah ledakan bintang yang dahsyat. Perumusan saat ini justru berkutat pada pertanyaan: supernova jenis apakah itu?

Tapi, yang jelas, pemahaman dunia saat ini sudah membimbing pada konfirmasi bahwa peristiwa yang telah ditangkap oleh astronom di Max Planck Institute itu melibatkan ledakan termonuklir dan sebuah bintang kerdil putih dan kembarannya.

Riset yang menganalisis sebuah “gaung cahaya” dari sebuah masa yang sangat lampau itu dipresentasikan dalam jurnal Nature. Adalah para peneliti dari Jerman, Jepang, dan Belanda yang melakukannya. Mereka menggunakan jaringan teleskop milik institute itu di Hawaii dan Spanyol untuk menangkap cahaya yang sangat lemah yang di gunakan oleh debu antarbintang dari sumber ledakan tersebut.

Sumber : Koran Tempo

Komentar bertahan »

Kodok di Sekitar Kita

ILMU & TEKHNOLOGI <!– @page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in } P { margin-bottom: 0.08in } –>

ILMU & TEKHNOLOGI

Kodok di Sekitar

Kita

amfibianspngSadarkah anda bahwa jumlah populasi kodok dunia tengah merosot tajam. Bisa jadi, kodok-kodok yang biasanya berkoar-koar pada malam hari di sekitar kita akan ikut menghilang. Mereka hanya sebagian kecil dari 370-an jenis kodok yang ada di Indonesia.

Angka itu masih bisa bertambah karena Hellen, Mirza, dan yang lainnya masih sering menemukan kodok-kodok yang belum pernah dideskripsikan. Ini agak ironis karena mereka tertuju mencari yang baru, sementara yang terancam penuh justru terlewati.

KODOK BERTANDUK

(MEGOPHRYS MONTANA)

Ciri: Katak Besar, kepala dan tubuh kekar, moncong meruncing, mata dengan perpanjangan dermai yang menyerupai tanduk.

Habitat: di hutan dan diam tanpa bergerak diantara serasah, menyaru dengan sempurna.

Sebaran: Jawa, Kalimantan, Sumatera.

KODOK BUDUK SUNGAI

(BUFO ASPER)

Ciri: tubuh besar dan kuat, tangan dan kaki dapat berputar.

Habitat: sepanjang tepi alur sungai.

Sebaran: Jawa, Sumatera, Kalimantan.

Sumber : Koran Tempo

Komentar bertahan »

Nyanyian Balada Kodok

Rhacophorus javanus <!– @page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in } P { margin-bottom: 0.08in } –>

Rhacophorus javanus

Jenis kodok endemis Jawa yang ditemukan oleh Mirza ini termasuk yang terinfeksi berat jamur chytrid.

080117-kodok

NYANYIAN

BALADA

KODOK

Beberapa kali Mirza D. Kusrini menemukan kodok-kodok hutan yang berjamur di bawah terik matahari. Sebagai pengajar di Departemen Konservasi Sumber Daya Kehutanan dan Ekoturisme yang telah bertaun-tahun meneliti kodok, Mirza tahu itu tidak biasa.

Pertama, kodok sebenarnya hewan yang aktif pad malam hari dan hidup di lingkungan yang lembab. Kedua, kodok yang ditemukannya kelihatan lesu. “Apakah sang kodok sedang menjalani terapi bertahan hidup?” .

Pertanyaan

Itu pantas mampir dalam benaknya karena bangsa kodok saat ini sedang menghadapi bahaya besar. Satu jenis jamur chytrid bernama lengkap Batra Chochytrium Dendrobatidis telah menjajah kawanannya di berbagai belahan dunia. Jamur itu terbukti berbahaya karena menyebabkan kematian massal dan mendadak di Australia serta di negara-negara Amerika Latin.

Jamur yang diduga menyebar dari Afrika Selatan-ketika uji-uji laboraturium dulu, seperti uji kehamilan, ramai mengimpor kodok dari negeri tersebut itu kini bahkan terungkap sudah menjalar ke eropa dan Amerika Utara, serta beberapa negara Asia.Indonesia adalah negara pertama di Asia Tenggara yang sudah memastikan keberadaan invasi jamur itu.

Mirza dan timnya menemukan indikasi yang khusus di Indonesia itu lewat serangkaian penelitian yang dimulai pada Desember 2006 lalu. Mirza mengambil sampel usapan lendir pada kulit 13 spesies kodok dari Taman Nasional Gede-Pangrango, lalu mengirimnya ke laboraturium di James Cook University di Australia yang memiliki metode PCR untuk meneropong sampel-sampel tersebut.

Sampel dipulangkan setahun lalu dengan hasil lima spesies di antaranya positif terserang jamur chytrid. Satu diantaranya bahkan menunjukkan indikasi terserang jamur tersebut dengan alpanya oral disk, semacam gigi di mulut kodok berudu. Jamur itu memang menyerang keratin yang ada di kulit, sedangkan gigi itu tersusun dari keratin.

Sumber : Koran Tempo

Komentar bertahan »

Apa itu Penyakit Lupus

Seperti yang diungkapkan dalam buku kecil Care for Lupus (Syamsi Dhuha), Lupus adalah sebutan umum dari suatu kelainan yang disebut sebagai Lupus Erythematosus.

Dalam istilah sederhana, seseorang dapat dikatakan menderita penyakit Lupus Erythematosus saat tubuhnya menjadi alergi pada dirinya sendiri. Lupus adalah istilah dari bahasa Latin yang berarti Serigala.

Hal ini disebabkan penderita penyakit ini pada umumnya memiliki butterfly rash atau ruam merah berbentuk kupu-kupu di pipi yang serupa di pipi Serigala, tetapi berwarna putih.

Penyakit ini dalam ilmu kedokteran disebut Systemic Lupus Erythematosus (SLE), yaitu ketika penyakit ini sudah menyerang seluruh tubuh atau sistem internal manusia. Dalam ilmu imunologi atau kekebalan tubuh, penyakit ini adalah kebalikan dari kanker atau HIV/AIDS. Pada Lupus, tubuh menjadi overacting terhadap rangsangan dari sesuatu yang asing dan membuat terlalu banyak antibodi atau semacam protein yang malah ditujukan untuk melawan jaringan tubuh sendiri. Dengan demikian, Lupus disebut sebagai autoimmune disease (penyakit dengan kekebalan tubuh berlebihan).

Jenis penyakit Lupus ini memiliki tiga macam bentuk, yang pertama yaitu Cutaneus Lupus, seringkali disebut discoid yang mempengaruhi kulit. Kedua, Systemic Lupus Erythematosus (SLE) yang menyerang organ tubuh seperti kulit, persendian, paru-paru, darah, pembuluh darah, jantung, ginjal, hati, otak, dan syaraf. Ketiga, Drug Induced Lupus(DIL), timbul karena menggunakan obat-obatan tertentu. Setelah pemakaian dihentikan, umumnya gejala akan hilang.

Komentar (3) »

Kemajuan Pengobatan Penyakit Lupus

By: Dewi

Dalam Kongres Internasional Lupus Sedunia di New York, awal Mei lalu, lebih dari 1200 peserta dari seluruh penjuru dunia hadir, baik dari kalangan medik, perawat, peneliti, maupun mereka yang terkena lupus. Dokter spesialis yang hadir pun beragam, seperti spesialis penyakit dalam, konsultan hematologi, rematologi, ginjal, spesialis kulit dan kebidanan.< p>

Organisasi ataupun perhimpunan orang dengan lupus juga hadir dari berbagai negara, dari Indonesia hadir Ketua Yayasan Lupus Indonesia (YLI) yang merupakan wakil satu-satunya dari perhimpunan serupa di Asia.

Untuk diketahui saat ini, ada lebih dari 5 juta pasien lupus di seluruh dunia dan setiap tahun ditemukan lebih dari 100.000 pasien baru, baik usia anak, dewasa, laki-laki, dan perempuan. Sebagian besar pasien lupus ditemukan pada perempuan usia produktif.

Jumlah pasien di Indonesia yang secara tepat tidak diketahui diperkirakan paling tidak sama dengan jumlah pasien lupus di Amerika, yaitu 1.500.000 orang. Beberapa data menunjukkan insiden penyakit lupus ras Asia lebih tinggi dibandingkan dengan ras Kaukasia. Saat ini pasien lupus yang terdaftar sebagai anggota YLI ada 757 orang, sebagian besar berdomisili di Jakarta.

Penyakit lupus adalah penyakit sistem daya tahan, atau penyakit auto imun, artinya tubuh pasien lupus membentuk antibodi yang salah arah, merusak organ tubuh sendiri, seperti ginjal, hati, sendi, sel darah merah, leukosit, atau trombosit. Antibodi seharusnya ditujukan untuk melawan bakteri ataupun virus yang masuk ke dalam tubuh.

Karena organ tubuh yang diserang bisa berbeda antara pasien yang satu dan yang lain, maka gejalanya juga sering kali berbeda, misalnya pasien yang satu dengan kaki dan perut bengkak akibat kerusakan di ginjal, pasien yang lain bisa dengan anemia berat atau jumlah trombosit yang amat rendah.

Salah satu tujuan proklamasi hari lupus sedunia adalah meningkatkan kualitas layanan dan mengatasi berbagai masalah yang dihadapi pengidap lupus. Masalah pertama adalah seringnya penyakit pasien terlambat diketahui dan diobati dengan benar karena cukup banyak dokter yang tidak mengetahui atau kurang waspada tentang gejala penyakit lupus dan dampak lupus terhadap kesehatan. Di Indonesia, rendahnya kompetensi dokter untuk mendiagnosis penyakit secara dini dan mengobati penyakit lupus dengan tepat tercermin dari pendeknya survival 10 tahun yang masih sekitar 50 persen, dibandingkan dengan negara maju, yang 80 persen.

Masalah berikutnya adalah belum terpenuhinya kebutuhan pasien lupus dan keluarganya tentang informasi, pendidikan, dan dukungan yang terkait dengan lupus. Dirasakan penting sekali meningkatkan kewaspadaan masyarakat tentang dampak buruk penyakit lupus terhadap kesehatan. Masalah lupus tidak hanya berdampak buruk pada kesehatan pasien, namun juga mempunyai dampak psikologi dan sosial yang cukup berat untuk pasien maupun keluarganya.

Masalah lain adalah kurangnya prioritas di bidang penelitian medik untuk menemukan obat-obat penyakit lupus yang baru, yang aman dan efektif, dibandingkan dengan penelitian penyakit-penyakit lain, yang sebanding besaran masalahnya.

Obat baru penyakit lupus

Dilaporkan beberapa obat baru untuk lupus yang dibahas di Kongres Internasional Lupus di New York. Salah satu obat baru adalah LymphoStat-B, bekerja menghambat protein yang menstimulasi limfosit B (BLyS= B lymphocyte stimulator). Limfosit B adalah sel yang berkembang menjadi sel plasma yang memproduksi antibodi, odi yang salah arah pada pasien lupus.

LymphoStat-B termasuk obat golongan antibodi monoklonal, yang mengenal secara khusus aktivitas biologis protein BLyS yang menstimulasi limfosit B , kemudian menghambat aktivitas protein tersebut sehingga limfosit B tidak bisa berkembang menjadi sel plasma yang memproduksi antibodi. Berkurangnya produksi antibodi menyebabkan aktivitas penyakit lupus mudah dikontrol.

Obat baru ini telah mendapat persetujuan FDA (Badan POM-nya Amerika), melalui jalur cepat, karena dianggap amat potensial sebagai obat penyakit SLE. Uji klinik telah membuktikan manfaat dan keamanan obat ini untuk mengobati penyakit lupus. Aktivitas penyakit lupus menurun. Obat tersebut juga memulihkan aktivitas auto imun kembali ke normal. Pada uji klinik tersebut juga dijumpai pengurangan jumlah limfosit B sebesar 12 persen-40 persen serta pengurangan kadar anti-dsDNA (double-stranded DNA); anti-dsDNA adalah salah satu kriteria penting untuk penyakit lupus.

Obat lain yang serupa LymphoStat B yang dilaporkan hasil uji kliniknya adalah rituximab (antilimfosit B) dan infliximab, yang mempunyai aktivitas anti-TNF (Tumor Necrosing Factor).

Peneliti lain melaporkan dehydroepiandrosterone (DHEA) dapat mengurangi keperluan dosis prednisone untuk pasien lupus. Khusus untuk pasien lupus dengan gangguan di ginjal (lupus nefritis), setelah mendapat obat siklofosfamid, sekarang ada 2 pilihan untuk obat pemeliharaan (maintenance), yaitu azatioprin atau mycophenolate mofetil yang ternyata hasilnya lebih baik dibandingkan dengan siklofosfamid. Masih dalam penelitian awal adalah pengobatan lupus dengan cangkok sumsum tulang, yang hasilnya cukup memberi harapan. Dapat disimpulkan, sekarang ini makin banyak pilihan pengobatan untuk SLE yang memberikan harapan baru, walaupun belum dapat memberikan kesembuhan total.

Dari: Prof Dr Zubairi Djoerban SpPD KHOM Bagian Ilmu Penyakit Dalam, FK UI/RSCM

Komentar (1) »

Penyakit Lupus

Penyakit lupus atau Systemic Lupus Erythematosus (SLE) memang belum banyak dikenal di Indonesia. Tak hanya masyarakat awam, para dokter pun banyak yang tak mengenal penyakit lupus. Sosialisasi penyakit ini sampai melibatkan pendakian gunung 5.000 meter di Himalaya, Nepal, yang direncanakan mencapai puncak pada Rabu (3/5) ini.
Lupus merupakan penyakit menahun akibat produksi antibodi yang berlebih. “Antibodi berlebih ini menjadi tidak berfungsi untuk melawan virus, bakteri, maupun kuman dalam tubuh,” papar dr Herry Fadjari Sp PD Khom. Kelebihan antibodi justru menyerang sel dan jaringan tubuhnya sendiri.
Sampai saat ini, belum diketahui penyebab berlebihnya antibodi penderita lupus, dan sulit untuk mengenal penyakit lupus secara dini. Pasalnya tidak ada gejala khusus pada penderita lupus. Gejala awal lupus justru mirip dengan berbagai penyakit biasa, seperti sakit pada sendi dan tulang seperti laiknya penyakit rematik.
Kemudian ada pula yang menampakkan gejala seperti demam tinggi yang berkepanjang, anemia, gangguan ginjal, maupun sakit kepala hingga sariawan yang hilang timbul.
Lantas ada gejala rambut mudah rontok, cepat lelah, sakit di dada bila menghirup nafas dalam, ujung jari berwarna kebiruan, turun berat badan, stroke, dan sensitif terhadap matahari. Gejala lainnya adalah mirip penyakit kulit.
Akibat gejalanya mirip dengan gejala penyakit lainnya, maka lupus dijuluki sebagai penyakit peniru. “Julukan lainnya adalah si penyakit seribu wajah,” tutur Representative Yayasan Lupus Indonesia Jabar Rini Andharyanie, dalam percakapan dengan SH baru-baru ini. Jika sudah kronis, biasanya lupus menyerang organ tubuh seperti ginjal, paru-paru, jantung, hati serta syaraf. Dalam kondisi kronis, penderita bisa saja tak tertolong lagi nyawanya.
Lupus kebanyakan menyerang pada usia produktif antara 14 tahun-30 tahun. Tak jarang pula anak-anak pun dapat menderita lupus. Di Jabar, misalnya, bulan lalu ada seorang anak berusia delapan tahun yang meninggal karena lupus. Jika tidak memperoleh penanganan medis secara cepat dan tepat, lupus dapat menyebabkan kematian penderitanya.

Sosialisasi
Sayangnya belum semua dokter yang mengenali penyakit lupus. Akibatnya tidak jarang penderita lupus didiagnosis secara keliru karena gejala awal lupus mirip dengan penyakit lainnya.
Diagnosis yang keliru secara otomatis menyebabkan dokter memberi obat yang keliru pula. Kasus salah diagnosis ini, sebut Rini, sudah kerap terjadi. Tidak jarang kesalahan diagnosis menyebabkan kematian bagi si penderita lupus.
Sebaiknya penderita memeriksakan diri ke beberapa dokter dan ahli. Pasalnya hingga kini belum ada pemeriksaan tunggal yang dapat digunakan menentukan seseorang menderita lupus atau bukan. Pemeriksaan juga harus didukung dengan uji laboratorium.
Di Jabar selama triwulan I saja, ada lima orang penderita lupus yang meninggal. Saat ini, jumlah penderita lupus ada sekitar 7.000 orang. Meski mematikan, sayangnya perhatian pemerintah terhadap penyakit lupus masih kurang.

Komentar bertahan »